Mas bro Mba sist, sebagian besar pasti tahu dengan istilah Overbore ,Overstroke, yak ini adalah penentu paling dasar performa mesin suatu kendaraan akan fokus di putaran mesin berapa sehingga karakter nya akan terlihat. Salah satu paradigma yang paling tersebar luas adalah bila mesin suatu kendaraan menganut Overstroke maka performa akan fokus di putaran mesin yang lebih rendah dibanding yang Overbore. Nah kenapa bisa seperti itu? Yang penasaran bisa lanjut baca terus.
Sekilas sedikit terkait Overstroke adalah kondisi di mana langkah piston (stroke) lebih panjang dibanding diameter piston (bore). Dengan asumsi ukuran bore nya 52,4 mm lalu stroke ukuran 57,9 mm maka stroke lebih besar dari bore. Dengan demikian keunggulan yang selama ini banyak dipahami bila kapasitas mesin sama dengan yang karakter Overbore adalah karakter performa nya lebih kuat di bawah, tidak perlu putar gas dalam untuk mencapai Peak Power dan Peak Torsi sehingga konsumsi BBM bisa menjadi lebih irit.

Apa sih yang membuat nya seperti itu? Masa hanya karena strokenya lebih panjang sehingga bisa seperti itu? Jadi seperti ini Mas bro Mba sist, ini ada hubungannya dengan Stroke di mana semakin panjang langkah suatu stroke maka batas aman piston speed nya akan semakin berada di putaran mesin yang lebih rendah. Apa itu Piston Speed? Piston Speed adalah kecepatan rata-rata piston bergerak naik turun dari Titik Mati Bawah ke Titik Mati Atas. Kenapa perlu mengikuti batas aman Piston Speed? Karena semakin tinggi putaran mesin (rpm) dan semakin Panjang suatu stroke maka piston bergerak semakin brutal, connecting rod semakin stress, gesekan antara dinding piston dinding liner dan kruk as semakin meningkat, suhu mesin naik, dan oli mesin akan lebih bekerja keras.
Lalu berapa batas aman dari Piston Speed? Untuk kendaraan produksi massal harian, biasanya ada di kisaran 15-20%. Untuk kendaraan produksi massal performa tinggi biasanya bisa dikisaran 20-25% tapi tentu ini harus diimbangi dengan kekuatan dan kualitas material yang dipakai. Dan biasanya akan ada rekayasa teknologi yang membantu menjaga daya tahan agar bisa tetap awet. Oke kita pakai asumsi batas aman nya adalah 20% dan panjang stroke 57,9 mm. Kita masuk ke pembahasan secara teknis nya.
Rumus PS adalah
PS = 2 × Stroke(dalam meter) × RPM ÷ 60
karena kita ingin tahu batas aman nya 20% dan panjang stroke 57,9mm ada di putaran mesin ke berapa maka kita perlu update rumus nya menjadi;
RPM = (MPS × 60) ÷ (2 × Stroke)
Karena rumus pakai meter:
57,9 mm = 0.0579 m
Maka:
RPM = (20 × 60) ÷ (2 × 0.0579)
RPM = 1200 ÷ 0.1158
RPM = 10.363
Agar ada pembanding maka kita coba cari karakter Overbore di kapasitas mesin 125cc maka bisa bisa menggunakan ukuran bore 58mm dan stroke 47,2mm . Paten Overbore nih ya? Lanjut hitung lagi.
RPM = (20 × 60) ÷ (2 × 0.0472)
RPM = 1200 ÷ 0.0944
RPM = 12.712
Jadi dengan asumsi kapasitas mesinnya sama, batas aman piston speednya sama, kualitas materialnya sama, kekuatan material juga begitu maka stroke 47,2mm akan bisa digeber lebih tinggi putaran mesinnya dibandingkan dengan stroke 57,9mm. Oke kembali lagi ke pembahasan overstroke, dengan batas aman di putaran 10.363 rpm maka hanya sedikit perusahaan yang membuat profil noken as nya efektif di angka tersebut. Peak Power dan Peak Torque pasti akan di bawah putaran mesin 10.363. Pada umumnya tinggal tergantung tujuan motor akan ke mana. Estimasi biasanya ada di kisaran 7500 - 9000 rpm, kalau Peak Torque biasanya di putaran mesin yang lebih rendah lagi.
Mengejar Peak Power dan Peak Torque yang ada di kisaran putaran mesin tersebut maka sudah pasti profil noken as akan difokuskan agar bisa berada di putaran mesin tersebut. Parameter lainnya juga akan mengikuti seperti ukuran klep in dan out, ukuran lubang venturi karbu/throttle body, ukuran dan panjang pipa knalpot, transmisi, hingga ke final ratio. Pokoknya parameter lainnya akan difokuskan pada putaran mesin tersebut. Jadi paham ya kenapa overstroke or long stroke akan lebih bertenaga lebih kerasa performa nya di putaran mesin yang lebih rendah dari overbore.
No comments:
Post a Comment